Film Indonesia: A Self Fulfilling Prophecy

Saya sebelumnya termasuk orang yang skeptis terhadap film Indonesia, hanya menonton kalau resensinya betul betul bagus saja…  Hanya beberapa  film Indonesia yang membekas di hati diantaranya adalah Ca Bau Kan, Naga bonar  dan Laskar Pelangi, sedang yang lain tidak terlalu ingat. Oh ya satu lagi film Indonesia yang saya ingat betul, yaitu G30S PKI. Saya yakin andapun bsia ingat film tsb seperti baru menontonnya kemarin.

Tetapi beberapa hari yang lalu kelas kami kedatangan tamu yaitu Nia Dinata (@tehniadinata) , beliau adalah sutradara dari Ca Bau kan dan juga film Arisan (1) dan (2) dan beberapa film Indonesia lainnya. Kedatangannya menceritakan bagaimana Industri perfilman mencoba bertahan dan berusaha maju, sungguh membuat saya melihat Film Indonesia dari kaca mata yang lain.

Membandingkan Film Indonesia dengan Film Hollywood tidaklah fair, karena biaya dan support yang jauh berbeda, tetapi bukan berarti kita menyerah dan menjadikannya sebagai alasan untuk memproduksi alakadarnya. Tetap berusaha maksimal dengan kondisi yang ada. Sebuah semangat yang hanya ada pada seseorang yang memiliki idealisme tinggi.

Nia Dinata sangat terbuka menceritakan banyak rahasia dapur dan juga kekesalannya terhadap kondisi yang ada, yang mungkin bukan konsumsi publik. Saya bisa share sedikit dari segi keuangan sebuah film, Nia Dinata memberikan Gambaran sebagai berikut:

Untuk Film yang baru dia garap (Arisan 2), kira kira biayanya 5 (Lima) milyard rupiah, berapakah kira kira yang akan dia dapat:

  • Pendapatan dari karcis bioskop: penonton kira kira 250.000 (perkiraan moderat) masing2 penonton dapat 10.000 rupiah = 2.5 milyard rupiah (syukur ternyata penonton arisan2 lebih dari perkiraan diatas)
  • Pendapatan dari TV station (jual hak tayang esklusif): 1 Milyard
  • Pendapatan dari CD/DVD : 500 jutaan
  • Pendapatan dari ikut festival kalau masuk nominasi… kira-kira… 200 juta

Kelihatan masih tekor bukan..? Tetapi ada hal yang lain yang bisa di dapatkan yaitu sponsor untuk film. Jadi kalaupun tekor beneran, tetap tidak rugi karena dana dari pihak sponsor atau pihak lain sebagai buffer. Jadi peran sponsor sangat penting untuk film ini, bahkan film mungkin tidak akan bisa dimulai kalau tidak ada dana at least 50% dari budget.

Nia juga menyatakan keheranannya tentang penurunan jumlah penonton tahun 2011 ini, beliau mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun sepi penonton, mungkin karena tidak ada film Hollywood yang bagus karena ada masalah perpajakan sehingga orang malas pergi ke bioskop dan berimbas pada penonton film Indonesia.

Pada Intinya Nia Dinata tidak ingin meminta special treatment atau proteksi kepada film Indonesia, misalnya dengan melarang masuk film impor, mungkin hal tersebut malah memiliki pengaruh jelek kepada film kita. Tetapi fair treatment kepada Film Indo sangat diperlukan kalau memang kita ingin Industri perfilm-an kita maju. Misalnya masalah pajak… Film Indonesia terkena double ataupun malah triple pajak. Bahkan pajak film Indonesia cukup tinggi sekitar 30% an,  sedangkan film Impor pajaknya jauh lebih kecil.  Support pemerintahpun harusnya bisa lebih baik.

Setelah mendengarkan paparan Nia Dinata, saya sebagai konsumen film juga merasa bahwa selama ini saya telah memberikan treatment yang tidak fair kepada Film Indonesia. Saya memiliki ekspektasi bahwa kalu film bioskop ya harusnya seperti Avatar, dialognya natural dan tidak kagok, tidak seperti dibuat buat, teknik editing harus yang wow dll.

Dengan sedikit mencibir kita akan memperkirakan bahwa Film Indonesia tidak akan pernah mencapai level tersebut. Tentunya hal ini tidaklah benar, bila saja film Indonesia diberi akses dana, support dan teknologi yang sama, saya yakin hasil mereka juga tidak akan kalah. Tetapi apabila kita sebagai konsumen selalu memiliki pandangan yang rendah terhadap Film Indonesia, maka yang terjadi adalah Film Indonesia tidak akan pernah memiliki kualitas yang bagus. Apa yang kita perkirakan diatas, meskipun tidak benar, akan menjadi kenyataan  - A self fulfilling prophecy.

Tentu  saja, Nia Dinata, Garin Nugroho dan insan per-filman yang lain tidak akan bisa menyalahkan konsumennya bila kita berpikiran demikian. Mereka hanya bisa berusaha sekuat tenaga dan pikiran menyatukan keinginan konsumen dan indealisme mereka, kewajiban kitalah untuk meng-apresiasi karya mereka bila kita ingin memajukan Industri kreatif ini bersama sama.

Bila Kita yakin bahwa Film Indonesia akan bisa memiliki kualitas yang bagus dan men support / meng-apresiasinya dengan baik, maka saya yakin hal tersebut akan mempercepat proses perbaikan kualitas di Film indonesia. Again.. A Self fulfilling prophecy… in a good way.

Cheers for now…

Note: Untuk memantau film indonesia ikuti hashtag #kamiskebioskop di twitter

Stalling

Stalling is a kind of procrastination, may be worst may be not… I don’t know… To me,  stalling usually related with (relatively big) decision making while procrastination usually not related to big decision making.

When I am putting off cleaning my desk, or not paying my credit card dues that’s  procrastination. When I am stuck at my “stinky” job and do nothing about it… that’s stalling.

The good (or bad) thing is,  we can live relatively comfortable in it. In fact the by stalling things, we defend the status-quo, the most comfortable place in the world and the best thing is we can still have sense of achievement or seen that way

  • We can do day to day job, doing technical stuff  when what we really need to do is leading
  • We can show up in the office 9-5 without fail when we need to do is networking
  • We can continue / re-enter  the school when we need to do is finding a (new) job / opportunity
  • We can blog when what we need to do is writing magazine articles

The list can go on and on… you can not argue that doing day to day job, show up in the office without fail, re-enter school and blogging is a bad thing to do… its not bad at all… but deep inside we know, we actually need to do something else bigger than that.

Is it always a bad thing..? not necessarily… we may be doing it because we do not want a sudden and abrupt move jeopardizing our current rhythm.

Re-enter the school for example, it can broaden our knowledge and networking, give us new perspectives and may lead to a new exciting job… Or blogging for example, it can be a “testing the water” for our potentially controversial  piece of article…

The worst stalling of all is… Not doing anything… and do not confuse with the concept of the “art of doing nothing” its totally different concept.. :)

Buy Happiness

We can buy happiness, it is in fact one of the reason why we work so hard… This following is my personal justification on buying things

  • Celebrate our wins. Big wins big celebrations, small wins small celebrations
  • Books… If we like reading… do not skimming on paperbacks, its for students. Consider the soft copy if we want lighter weight
  • Gym membership… exercise give us similar substance as dope… think as we are buying a healthy dope… Only if we really going to use it though, otherwise better donate the money to an orphanage
  • Hobby.. Buy a good camera, stick golf, cars, watch or whatever we can buy with spare money… No point buying expensive stuff with loan or insurance money.
  • Vacation, we need break from routine… and come back to work with wide smile on our face…

Point is… buy happiness if we can, life is too short anyway.. But plan it carefully, or else…. our life will be shorter  than it should be…  :D

Menghindari pencurian Pulsa

Modus operandi pencurian pulsa ini adalah sebagai berikut: anda di iming imingi hadiah atau sms-sms lucu lucuan, atau ramalan, atau dijawab oleh artis tertentu secara pribadi…

Untuk mendapatkannya, anda harus subscribe dengan cara mengetik ” reg (spasi) xxxx” (nomor empat angka) dan andapun akan dikirimkan sms-sms sesuai langganan anda.

Kadang kadang (banyak) yang tidak secara gamblang memberitahukan cara berhenti registrasi (misalnya ditulis kecil2) dan ada biaya 2.000an setiap anda DIKIRIMI sms.

Nah bila ada content provider yang curang, meskipun anda berhenti langganan, biasanya dengan cara ketik “unreg (spasi) xxxx”, content provider tersebut tetap mengirimkan sms dan terus menggerus pulsa anda.

Berapa sebenarnya bisnis content provider ini.. ? kalau saya ambilkan dari jakartaglobe, maka rata rata 1 content provider ini mengantungi 10 milyar pertahun.

The industry consists of about 400 content provider companies that employ about 2,000 people and generate around Rp 4 trillion ($450 million) in revenue annually from more than 15 million customers, Yusuf said.

Dari data diatas, maka bisa dikatakan setiap tahunnya, rata rata konsumen content provider ini harus membayar sekitar 266.666 rupiah pertahunnya…

Untuk menghindarinya pencurian pulsa ini mudah sebenarnya… jangan pernah subscribe dg cara mengetik “reg spasi” apapun. Saya beri tiga alasan kuat untuk tidak subscribe yaitu :

  1. Tak ada gunanya
  2. Tak ada gunanya
  3. Tak ada gunanya

Maaf terlalu menggeneralisir… mungkin saja ada satu dua yang memang ada gunanya…

Breaking the Rule(s)

What do you call someone who understand the rules but consciously breaking it…? we have two names for them:

  1. Criminals
  2. Artists

the difference of the two is: The first one theyare breaking the rules for personal gain at the cost of others, while the second one they are breaking the rules without hurting anyone. You may be never be an artist if you break the rules without knowing it, you can however, become a criminal by breaking rules regardless you know it or not.

Breaking rules consciously is what make an abstract painting have a higher value than a 3 years old kid who paint randomly ( although sometime artist use a 3 years baby to paint their masterpiece).

Look at Picasso for example, he break most of rules, but still, we regard him as the greatest artist in century, he can paint according to the rules alright, but he chooses not to, he wants to paint his expression if it need to break some rules lets be it. This is what he wants doesn’t matter what others want.

Does he break all rules he knows…? I do not think so, he still maintain some rules to keep the color balance for example… so even he break rules, he knows exactly which one to break and which one to keep. Some who understand and can appreciate it, will be willing to  pay dearly for his paintings.

We can be an artist anywhere, in marketing, in class, in finance company etc… but we have two rules for it

1. We should understand the rules completely

2. Break the wrong rules, we can go to jail….

Jakarta 2.30AM. Damned you Insomnia… :)