Gunung Gede

Gunung Gede Pangrango meletus terakhir kali tahun 1957, jadi merupakan gunung yang aktif. Gunung yang sangat cantik, memiliki berbagai jenis flora dan fauna yang sangat beragam. ada beberapa aktivitas yang biasanya di lakukan di gunung ini yaitu:

  • Bird watching ( ada 251 jenis burung hidup di gunung ini, lebih dari separuh jenis burung yang ada di jawa)
  • Hiking banyak obyek yang bisa kita kunjungi, kalau dari cibodas:
    • Telaga biru (kira kira 1.5 km dari pintu masuk)
    • Air terjun cibeureum (kira kira 2.8km dari pintu masuk)
    • Air panas (5.2km dari pintu masuk)
    • Kandang badak (gak ada badaknya..! 7.8 km dari pintu masuk)
    • Puncak / kawah (9.7 km dari pintu masuk)
    • Alun alun suryakencana (turun dari kawah ada hamparan 50 hektar bunga edelweis 11.7km dari pintu masuk)
  • Dan gak ketingalan, kalau mau pacaran top banget disana.. :)

Sabtu kemarin Hiking dengan teman teman sampai air panas.. beberapa foto…

Treking pertama ke Air terjun cibereum kata beberapa orang bisa dikatakan “walk in the park”, tapi untuk saya sudah hampir menghapiskan separuh napas :)

 

 

 

Nah dari air terjun ini ke Air panas, tracknya mulai “betulan”

Beberapa kali istirahat mungkin diperlukan

Kalau mau ngopi dan ngeteh dulu juga bisa

Dekat dengan sumber air panas, harus hati hati, terknya basah dan airnya panas..

Setelah itu bisa mandi  di air panas

dan tahukah anda, konon kabarnya si Wiro sableng di didik oleh gurunya sinto gendeng di pengunungan ini.. :)

 

Tanya Jawab Seputar Bea Masuk dan Pajak Impor Barang Penumpang

Reblogged from Adibudiarso:

Tanya jawab seputar Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010 tentang Impor Barang yang Dibawa oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut Pelintas Batas dan Barang Kiriman (29 Oktober 2010 ).

 Pertanyaan I

Peraturan Baru Menkeu tentang Biaya Impor Barang Bawaan Penumpang dari Luar Negeri, intinya barang bawaan senilai lebih dari USD 250 dikenai bea masuk.

1. Apa tiap barang yang nilainya lebih dari itu akan kena bea?

Read more… 1,752 more words

Yang mau belanja di luar negeri dan bingung tentang perpajakan bisa dilihat disini... penulisan jelas dan tidak berbelit... thanks Pak Adi..

Film Indonesia: A Self Fulfilling Prophecy

Saya sebelumnya termasuk orang yang skeptis terhadap film Indonesia, hanya menonton kalau resensinya betul betul bagus saja…  Hanya beberapa  film Indonesia yang membekas di hati diantaranya adalah Ca Bau Kan, Naga bonar  dan Laskar Pelangi, sedang yang lain tidak terlalu ingat. Oh ya satu lagi film Indonesia yang saya ingat betul, yaitu G30S PKI. Saya yakin andapun bsia ingat film tsb seperti baru menontonnya kemarin.

Tetapi beberapa hari yang lalu kelas kami kedatangan tamu yaitu Nia Dinata (@tehniadinata) , beliau adalah sutradara dari Ca Bau kan dan juga film Arisan (1) dan (2) dan beberapa film Indonesia lainnya. Kedatangannya menceritakan bagaimana Industri perfilman mencoba bertahan dan berusaha maju, sungguh membuat saya melihat Film Indonesia dari kaca mata yang lain.

Membandingkan Film Indonesia dengan Film Hollywood tidaklah fair, karena biaya dan support yang jauh berbeda, tetapi bukan berarti kita menyerah dan menjadikannya sebagai alasan untuk memproduksi alakadarnya. Tetap berusaha maksimal dengan kondisi yang ada. Sebuah semangat yang hanya ada pada seseorang yang memiliki idealisme tinggi.

Nia Dinata sangat terbuka menceritakan banyak rahasia dapur dan juga kekesalannya terhadap kondisi yang ada, yang mungkin bukan konsumsi publik. Saya bisa share sedikit dari segi keuangan sebuah film, Nia Dinata memberikan Gambaran sebagai berikut:

Untuk Film yang baru dia garap (Arisan 2), kira kira biayanya 5 (Lima) milyard rupiah, berapakah kira kira yang akan dia dapat:

  • Pendapatan dari karcis bioskop: penonton kira kira 250.000 (perkiraan moderat) masing2 penonton dapat 10.000 rupiah = 2.5 milyard rupiah (syukur ternyata penonton arisan2 lebih dari perkiraan diatas)
  • Pendapatan dari TV station (jual hak tayang esklusif): 1 Milyard
  • Pendapatan dari CD/DVD : 500 jutaan
  • Pendapatan dari ikut festival kalau masuk nominasi… kira-kira… 200 juta

Kelihatan masih tekor bukan..? Tetapi ada hal yang lain yang bisa di dapatkan yaitu sponsor untuk film. Jadi kalaupun tekor beneran, tetap tidak rugi karena dana dari pihak sponsor atau pihak lain sebagai buffer. Jadi peran sponsor sangat penting untuk film ini, bahkan film mungkin tidak akan bisa dimulai kalau tidak ada dana at least 50% dari budget.

Nia juga menyatakan keheranannya tentang penurunan jumlah penonton tahun 2011 ini, beliau mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun sepi penonton, mungkin karena tidak ada film Hollywood yang bagus karena ada masalah perpajakan sehingga orang malas pergi ke bioskop dan berimbas pada penonton film Indonesia.

Pada Intinya Nia Dinata tidak ingin meminta special treatment atau proteksi kepada film Indonesia, misalnya dengan melarang masuk film impor, mungkin hal tersebut malah memiliki pengaruh jelek kepada film kita. Tetapi fair treatment kepada Film Indo sangat diperlukan kalau memang kita ingin Industri perfilm-an kita maju. Misalnya masalah pajak… Film Indonesia terkena double ataupun malah triple pajak. Bahkan pajak film Indonesia cukup tinggi sekitar 30% an,  sedangkan film Impor pajaknya jauh lebih kecil.  Support pemerintahpun harusnya bisa lebih baik.

Setelah mendengarkan paparan Nia Dinata, saya sebagai konsumen film juga merasa bahwa selama ini saya telah memberikan treatment yang tidak fair kepada Film Indonesia. Saya memiliki ekspektasi bahwa kalu film bioskop ya harusnya seperti Avatar, dialognya natural dan tidak kagok, tidak seperti dibuat buat, teknik editing harus yang wow dll.

Dengan sedikit mencibir kita akan memperkirakan bahwa Film Indonesia tidak akan pernah mencapai level tersebut. Tentunya hal ini tidaklah benar, bila saja film Indonesia diberi akses dana, support dan teknologi yang sama, saya yakin hasil mereka juga tidak akan kalah. Tetapi apabila kita sebagai konsumen selalu memiliki pandangan yang rendah terhadap Film Indonesia, maka yang terjadi adalah Film Indonesia tidak akan pernah memiliki kualitas yang bagus. Apa yang kita perkirakan diatas, meskipun tidak benar, akan menjadi kenyataan  - A self fulfilling prophecy.

Tentu  saja, Nia Dinata, Garin Nugroho dan insan per-filman yang lain tidak akan bisa menyalahkan konsumennya bila kita berpikiran demikian. Mereka hanya bisa berusaha sekuat tenaga dan pikiran menyatukan keinginan konsumen dan indealisme mereka, kewajiban kitalah untuk meng-apresiasi karya mereka bila kita ingin memajukan Industri kreatif ini bersama sama.

Bila Kita yakin bahwa Film Indonesia akan bisa memiliki kualitas yang bagus dan men support / meng-apresiasinya dengan baik, maka saya yakin hal tersebut akan mempercepat proses perbaikan kualitas di Film indonesia. Again.. A Self fulfilling prophecy… in a good way.

Cheers for now…

Note: Untuk memantau film indonesia ikuti hashtag #kamiskebioskop di twitter

Stalling

Stalling is a kind of procrastination, may be worst may be not… I don’t know… To me,  stalling usually related with (relatively big) decision making while procrastination usually not related to big decision making.

When I am putting off cleaning my desk, or not paying my credit card dues that’s  procrastination. When I am stuck at my “stinky” job and do nothing about it… that’s stalling.

The good (or bad) thing is,  we can live relatively comfortable in it. In fact the by stalling things, we defend the status-quo, the most comfortable place in the world and the best thing is we can still have sense of achievement or seen that way

  • We can do day to day job, doing technical stuff  when what we really need to do is leading
  • We can show up in the office 9-5 without fail when we need to do is networking
  • We can continue / re-enter  the school when we need to do is finding a (new) job / opportunity
  • We can blog when what we need to do is writing magazine articles

The list can go on and on… you can not argue that doing day to day job, show up in the office without fail, re-enter school and blogging is a bad thing to do… its not bad at all… but deep inside we know, we actually need to do something else bigger than that.

Is it always a bad thing..? not necessarily… we may be doing it because we do not want a sudden and abrupt move jeopardizing our current rhythm.

Re-enter the school for example, it can broaden our knowledge and networking, give us new perspectives and may lead to a new exciting job… Or blogging for example, it can be a “testing the water” for our potentially controversial  piece of article…

The worst stalling of all is… Not doing anything… and do not confuse with the concept of the “art of doing nothing” its totally different concept.. :)

Buy Happiness

We can buy happiness, it is in fact one of the reason why we work so hard… This following is my personal justification on buying things

  • Celebrate our wins. Big wins big celebrations, small wins small celebrations
  • Books… If we like reading… do not skimming on paperbacks, its for students. Consider the soft copy if we want lighter weight
  • Gym membership… exercise give us similar substance as dope… think as we are buying a healthy dope… Only if we really going to use it though, otherwise better donate the money to an orphanage
  • Hobby.. Buy a good camera, stick golf, cars, watch or whatever we can buy with spare money… No point buying expensive stuff with loan or insurance money.
  • Vacation, we need break from routine… and come back to work with wide smile on our face…

Point is… buy happiness if we can, life is too short anyway.. But plan it carefully, or else…. our life will be shorter  than it should be…  :D